MetroLacakNews.com, SIDRAP – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Profesi Kesehatan (KKN-PK) Universitas Hasanuddin Angkatan 69 dari Program Studi Psikologi, Tazkhia Amalia, melaksanakan program kerja bertajuk RANGKUL (Merangkul Teman, Cegah Bullying) di UPT SD Negeri 4 Belawae, Desa Belawae, Kecamatan Pitu Riase, Kabupaten Sidenreng Rappang, pada Kamis (23/07/2026). Kegiatan ini diikuti oleh 53 siswa kelas V dan VI sebagai bentuk edukasi untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran siswa mengenai bahaya bullying di lingkungan sekolah.
Program kerja ini dilatarbelakangi oleh masih adanya perilaku bullying yang sering dianggap sebagai candaan di kalangan siswa. Padahal, tindakan seperti mengejek, mengucilkan, memberi julukan yang merendahkan, hingga melakukan kekerasan fisik maupun verbal dapat meninggalkan dampak yang serius terhadap kesehatan mental, rasa percaya diri, serta perkembangan sosial korban. Oleh karena itu, diperlukan edukasi sejak dini agar siswa mampu mengenali bentuk-bentuk bullying, memahami dampaknya, serta berani mencegah perilaku tersebut.
Melalui program RANGKUL (Merangkul Teman, Cegah Bullying), siswa diberikan materi mengenai pengertian bullying, jenis-jenis bullying, serta dampak yang ditimbulkan bagi korban maupun pelaku. Penyampaian materi dilakukan secara interaktif melalui diskusi dan tanya jawab sehingga siswa dapat berpartisipasi aktif selama kegiatan berlangsung.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi renungan yang menjadi bagian paling berkesan dalam program tersebut. Dengan diiringi musik yang menenangkan, siswa diminta memejamkan mata dan membayangkan bagaimana rasanya apabila menjadi korban bullying maupun menjadi seseorang yang pernah melakukan bullying kepada orang lain. Sesi ini bertujuan untuk membangun empati sekaligus menyadarkan siswa bahwa setiap perkataan dan tindakan dapat memberikan luka yang mendalam bagi orang lain.
Suasana kelas yang awalnya penuh semangat berubah menjadi hening dan haru. Beberapa siswa tampak meneteskan air mata selama sesi renungan berlangsung. Setelah kegiatan selesai, Tazkhia mengajak siswa berdiskusi mengenai apa yang mereka rasakan. Sebagian siswa mengaku sedih karena teringat pernah menjadi korban bullying, sementara beberapa siswa lainnya merasa menyesal karena teringat pernah melakukan tindakan bullying kepada teman mereka.
Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi refleksi menggunakan sticky notes. Setiap siswa diminta menuliskan perasaan mereka setelah mengikuti kegiatan, pelajaran yang diperoleh, maupun curahan hati yang ingin disampaikan. Selanjutnya, sticky notes tersebut ditempelkan pada gambar siluet seorang anak di bagian tubuh yang menurut mereka paling menggambarkan rasa sakit akibat bullying. Aktivitas ini menjadi media bagi siswa untuk mengekspresikan perasaan sekaligus memahami bahwa dampak bullying tidak hanya meninggalkan luka fisik, tetapi juga luka emosional yang dapat membekas dalam waktu lama.
Antusiasme siswa terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Mereka aktif menjawab pertanyaan, mengikuti diskusi, serta terlibat dalam setiap rangkaian kegiatan. Respons emosional yang muncul pada sesi renungan dan refleksi menunjukkan bahwa materi yang diberikan mampu menyentuh perasaan siswa dan mendorong mereka untuk merefleksikan pengalaman pribadi.
“Bullying sering kali dianggap sebagai candaan, padahal dampaknya dapat dirasakan dalam waktu yang lama. Melalui program RANGKUL, saya berharap siswa tidak hanya memahami apa itu bullying, tetapi juga memiliki keberanian untuk menghentikan perilaku tersebut, saling menghargai, dan menjadi teman yang mampu merangkul satu sama lain,” ujar Tazkhia Amalia.
Ia menambahkan bahwa momen paling berkesan selama kegiatan adalah ketika melihat siswa berani mengungkapkan perasaannya setelah mengikuti sesi renungan.
“Saat sesi renungan berlangsung, beberapa siswa menangis. Setelah kami berbincang, ada yang mengaku sedih karena pernah menjadi korban bullying dan ada pula yang merasa menyesal karena teringat pernah membully temannya. Momen tersebut menjadi pengingat bahwa setiap perkataan dan tindakan memiliki dampak. Saya berharap kesadaran yang tumbuh hari ini dapat menjadi langkah awal untuk menciptakan lingkungan sekolah yang lebih aman dan saling menghargai,” tambah Tazkhia.
Melalui program kerja RANGKUL (Merangkul Teman, Cegah Bullying), diharapkan siswa mampu menerapkan sikap saling menghormati, meningkatkan empati terhadap sesama, serta bersama-sama menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan bebas dari bullying. Program ini juga diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun budaya saling menghargai yang terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah.
Update terakhir: 26 Juli 2026 12:15














